Dari PWEP Hiroshima PDF Print E-mail

Minutes to Minutes Perjalanan Menuju PWEP Hiroshima

oleh Dodik Kurniawan

 

PWEP HiroshimaDari markas WGTT di Nagoya, kami berenam janjian ketemu di Yagoto Eki hari Sabtu, 27 Juni 2009 pukul 9 pagi. Staff WGTT kali ini diwakili oleh Sunu, Danu, Fatiyah, Odi, Nelfa, dan Dodik. Sedikit terkesan kalau personilnya muda-muda dengan energi kerjanya yang tinggi, Insya Allah.

Pada awalnya kami rental mobil Voxy dengan pertimbangan ecofriendly (bensinnya lebih irit he3), tapi ternyata ditawari Estima dengan biaya yang sama dengan mobil yang kami pesan. Gpp lah … yang penting lebih nyaman. Yang dikhawatirkan adalah kondisi jalan tol yang macet karena weekend dengan tariff tolnya yang seribu yen.

Ternyata lancar-lancar aja sampai Kobe. Kami break dulu untuk lunch dengan menu sushi dan sashimi. Terlintas untuk mempercepat perjalanan dan mengubah jadwal pertemuan dengan PPI Hiroshima. Yang pada awalnya direncanakan untuk membagi Tim WGTT menjadi 2, yaitu untuk meeting dengan PPI Hiroshima dan memenuhi undangan BI, akhirnya kami coba rescheduling dengan Pak Suandar, contact person PPI Hiroshima.

Singkat cerita, kita sampai di Hiroshima, tepatnya Hotel Sunrise 21 pukul 16:30. Tarif tol yang diperkirakan 1000 yen, ternyata 4000 yen karena melewati 4 jalan tol, yaitu Tokyo – Nagoya Highway (Toumei), Nagoya – Osaka, Osaka – Okayama, Okayama – Hiroshima dengan tarif masing-masing 1000 yen. Hotel yang kami pilih bukan sembarang hotel, tetapi apartemen hotel. 2LDK (2 kamar 1 ruang tamu) bias untuk 6 orang.

Pukul 17:30 perwakilan PPI Hiroshima (Pak Suandar dan Pak Hadi) datang ke hotel kami untuk membahas pelaksanaan Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) keesokan harinya. Disepakati bahwa dilakukan kolaborasi MC antara WGTT (Sunu) dan PPI Hiroshima (Sofia). Sebuah ide menarik karena teringat dengan Festival Indonesia Kobe yang menggunakan 2 MC dan mampu membawa suasana segar bagi pengunjung. Moderator untuk diskusi panel juga dari PPI. Untuk acara ditambahkan forum perpajakan dengan harapan para calon pengusaha nantinya sadar untuk membayar pajak.

Dikarenakan waktu yang semakin terbatas dengan janji bertemu Bank Indonesia, akhirnya disepakati bahwa persiapan seminar kit dan spanduk akan dikerjakan pada hari H pukul 8 pagi.

Buru-buru kami mempersiapkan diri untuk perjalanan ke Hiroshima Eki. Perlu diketahui, lokasi PWEP berada di Higashi Hiroshima-shi, kira-kira 30 km dari Hiroshima. Kami dating pukul 20:00 dan Pak Arief, Pak Ishak, dan staff Jepang telah menunggu di meja makannya. Jadi malu juga meskipun janjinya memang pukul 8 malam. Acara kali ini sebagai bentuk ramah tamah dan perpisahan dengan Pak Ishak yang akan ditugaskan ke Surabaya. Semoga makin sukses, Pak.

Satu persatu kami memperkenalkan diri, karena hanya penulis dan Nelfa yang telah mengenal Beliau-beliau ini. Dalam kesempatan ini, kami tidak menyia-nyiakan untuk berdiskusi tentang program-program PWEP dan Pendampingannya di Indonesia. Disepakati untuk melakukan penjajakan yang lebih intens kepada perusahaan-perusahaan khususnya pembinaan terhadap UMKM seperti Yayasan Dompet Dhuafa mau kaos C59. Mohon dukungannya agar niat kami ini bias terwujud. Sayang sekali obrolan kami harus terputus karena restoran hanya buka sampai pukul 21:30.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat berhenti sejenak untuk mengenang tragedy bom atom Hiroshima 1945. Sebuah gedung bernama Genbaku Dome sengaja dibiarkan seperti aslinya untuk dikenang oleh anak cucu pejuang-pejuang yang menjadi korban bom tersebut. Terdapat taman yang sangat luas dan beberapa museum, saying kami tidak bias masuk.

Tiba di hotel pukul 12 malam, tidur dulu ah..biar besok bias dating pagi-pagi untuk mempersiapkan acara. Tepat pukul 8 pagi kami tiba di gedung acara, Chuou Kouminkan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dengan hotel kami. Perwakilan PPI, Pak Dodok (kok namanya mirip yah?) juga baru tiba di sana. Selang beberapa menit kemudian, Pak Suandar, Pak Hadi, dkk dating ke lokasi.

Ruangan berada pada lantai 3 dengan kapasitas 120 orang. Kami langsung membagi dalam 3 tim, yaitu layout ruangan, persiapan spanduk, dan registrasi. Masing-masing terdapat perwakilan WGTT agar dapat berkolaborasi dengan PPI. Di sudut lainnya terlihat MC sedang berdiskusi. Tamu yang dating pertama kali adalah dari IMM Hiroshima, kemudian BNI, KJRI, dan BI.

Pukul 9:30 peserta mulai berdatangan dengan jumlah total tidak kurang dari 40 orang. Acara dibuka oleh Bpk. I gusti dari KJRI dan ditutup dengan diskusi panel. Senang melihat sikap peserta yang antusias mendengar presentasi dari pembicara. Informasi selengkapnya tentang acara PWEP Hiroshima ini dapat kami rangkum dalam press release di bawah ini.

 


---------------

SEMANGAT BERWIRAUSAHA KENSHUSEI MEMBARA

di HIROSHIMA, JEPANG

 

Pada tanggal 28 Juni 2009, Working Group for Technology Transfer (WGTT) bekerjasama dengan Persatuan Pelajar Indonesia Komisariat Hiroshima (PPI Hiroshima) mengadakan Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) yang ke-14 (2008 - 2009). PWEP kali ini bertempat di Hiroshima, kota yang meninggalkan kepiluan korban Perang Dunia II dan kini menjelma menjadi salah satu pusat kota industri, pelajar, dan pariwisata yang cukup diperhitungkan di Jepang.

Tidak kurang dari 72 kenshusei (trainee, dalam Bahasa Jepang) dan undangan dari KJRI Osaka, BI Tokyo, BNI Tokyo, dan IMM Japan datang memadati Gedung Chuo Kouminkan, Hiroshima.

Dalam kesempatan itu, Kepala BI Tokyo, Muhamad Ishak menekankan lagi tentang pentingnya Program Pendampingan hasil kerjasama WGTT dan organisasi berstandar nasional seperti Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) melalui Training Wirausaha Bengkel Roda Dua AHASS/ASPIRA. Para lulusan program ini akan memperoleh pendampingan sampai berhasil membuka bengkel Aspira yang pada umumnya memerlukan modal awal mulai dari 50 juta rupiah. Ekonom BI Tokyo, Arief Hartawan juga memberikan beberapa alternatif lain seperti pendampingan oleh Dompet Dhuafa untuk pertanian, C59 untuk T-shirt, dan puluhan UMKM di Jawa Timur yang telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan pembinaan khusus bagi kenshusei dari Jepang.

Di samping itu, Kepala BNI Tokyo, Firman Wibowo memandang bahwa edukasi perbankan sangat dibutuhkan oleh calon wirausahawan UMKM untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Melalui program-programnya, BNI berkomitmen untuk selalu memberikan dukungan finansial agar kenshusei dapat mengembangkan usahanya di tanah air.

Terlihat semangat berwirausaha para peserta semakin membara ketika Arif Kurniawan, yang juga mantan alumni kenshusei mulai memaparkan awal perjalanan wirausahanya di bidang jasa pengurusan pengembalian pajak pensiun. Pria yang juga bekerja di bagian personalia sebuah perusahaan multinasional di Jepang tersebut berhasil mengubah pola pikir peserta dengan teknik imaginasi. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi salah satu motivasi bagi para kenshusei untuk menuju ke perubahan yang lebih baik.

Tidak ketinggalan General Manager WGTT, Dodik Kurniawan menegaskan bahwa sebuah usaha hanya akan dapat berkembang dan memiliki daya saing jika dibarengi dengan adanya kontinyuitas inovasi teknologi, jaringan kemitraan dan pemasaran, SDM yang berkualitas, dan modal. Juga, pemilihan jenis usaha dengan meniru pasar yang lagi boom bukanlah hal yang tepat, tetapi melalui penggunaan analisa Strength, Weakness, Opportunity, dan Threats (SWOT) dan Brainstorming akan diperoleh ide-ide usaha yang objektif.

Melalui pelatihan wirausaha ini, diharapkan para kenshusei tidak cepat puas dengan status dan kondisinya sekarang, tetapi berani mengambil langkah dan mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan baru yang tidak bergantung pada lapangan kerja yang ada di luar negeri, melainkan menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di negeri sendiri.

 

Di-release oleh Working Group for Technology Transfer (http://wgtt.org)

---------------

 

Selesai acara, terlihat para peserta yang menghampiri pembicara untuk berdiskusi person to person. Semoga dengan acara pelatihan ini, para kenshusei dapat memperoleh motivasi untuk berwirausaha dan semakin mempersiapkan masa depannya di Indonesia. Amiin.

Sedikit berbeda dengan kebiasaan sebelumnya yang mengadakan ramah tamah setelah acara berakhir, kali ini WGTT dan PPI langsung membahas tentang pengeluaran-pengeluaran selama acara, diataranya untuk sewa gedung, lunch box, seminar kit, dll. Tepat pukul 17:30 kami langsung meninggalkan lokasi agar tidak terlalu malam sampai di Nagoya dikarenakan semua staff langsung aktif keesokan harinya. Jumlah penumpang saat itu adalah 7 orang dengan Arif Kurniawan, salah satu presenter andalan dalam PWEP kali ini.

Singkat cerita, kami tiba di rumah masing-masing pada pukul 2 malam. Dua hari yang cukup melelahkan tapi meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Harapan kami dari PWEP Hiroshima ini akan hadir pengusaha-pengusaha muda Indonesia.

 

Gambatte para calon Pengusaha !

 

Photo PWEP Hiroshima

Last Updated on Sunday, 05 July 2009 09:35